Tempo hari aku merasakan sebuah ketakutan yang mendalam, sebuah ketakutan yang amat kuat menggelayuti pikiran dan hatiku ini. Saat itu aku merasa sangat teramat galau. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya dan seharusnya kulakukan. Seketika itu juga pikiranku buntu dan hanya satu hal yang ingin kulakukan, menangis.
Aku tidak pernah suka dengan sebuah hal yang namanya menangis karena kita tahu menangis itu hanya akan membuat badan terasa lelah dan yang pasti mata kita akan bengkak sehingga membuat wajah terlihat mengerikan. Beruntungnya papa dan mama mengajakku untuk berdoa ke suatu tempat dimana kami sering berdoa. Saat itu, disana sangat sepi, tidak terlihat para pendoa yang biasanya juga berdoa. Hanya beberapa saja setelah kuhitung, ada seorang bapak tua, sepasang kekasih, sebuah keluarga kecil, dan yang terakhir adalah keluargaku. Suasana sangat dingin dan terasa mencekam karena sudah malam.
Pertama, aku bersyukur atas semua hal yang Tuhan beri buat aku. Banyak hal yang seharusnya aku syukuri, namun aku belum bersyukur. Aku teringat kondisi kawan2 yang terkena bencana begitu merana, sedangkan aku? Aku bisa makan dengan enak, berangkat kuliah dengan kendaraan yang orangtuaku beri buat aku, bisa duduk berleha-leha dirumah, bisa belajar, tidur di kasur yang enak, dan banyak hal lain. Mereka, para korban bencana, tidur di tempat pengungsian, kedinginan, tidak sekolah, terkena banyak penyakit, makan-makanan seadanya, dan berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Sudah sepantasnya aku bersyukur, dan aku teringat bahwa terkadang aku mengeluhkan sesuatu yang tidak seharusnya dikeluhkan.
Kedua, aku minta sama Tuhan supaya hatiku ditenangkan, aku minta supaya moodku dipulihkan karena aku masih dalam tahap kuliah. Aku takut ketika aku tidak semangat kuliah, papa dan mamaku merasa sedih, aku cuma pengen bisa membanggakan mereka. Sepertinya itulah cara terbaik yang bisa kulakukan sekarang ini untuk membalas semua kebaikan mereka untukku. Dan sangat menggembirakan, keesokan harinya, Tuhan langsung mengabulkan permintaanku itu. I'm very happy.
Yang ketiga, aku minta supaya negaraku cepat kembali damai. Bencana, kerusuhan, dan segala hal yang mengganggu keamanan negara ini semoga segera dihilangkan. Membahas perbedaan SARA, sepertinya sudah tidak terlalu penting untuk keadaan genting seperti ini. Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika, harus benar-benar bersatu, jangan hanya digembor-gemborkan saja, tapi benar dilaksanakan. Aku berharap masyarakat Indonesia menghilangkan fanatisme sempit yang menghalangi pelaksanaan semboyan itu. Aku sedih ketika melihat kenyataan bahwa banyak pertengkaran di negara Ini akibat perbedaan SARA. Aku berharap, semoga semua sadar bahwa kita ini satu, kita INDONESIA.
Dan doaku yang terakhir, aku minta, aku selalu didekatkan rejeki dan juga didekatkan selalu dengan jodohku nanti siapapun itu. Aku berharap, aku punya masa depan yang cerah seperti banyak orang impikan. Ketika aku selesai berdoa, aku membuka mata, dan aku berkeyakinan, esok pasti akan tiba sebuah masa dimana kehidupan akan berjalan dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar